Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

NOTULEN SEORANG PERENUNG DAN PUISI-PUISI MUHAMMAD DAFFA LAINNYA

 


NOTULEN SEORANG PERENUNG

mengenang segala yang percuma
aku tolak simbol-simbol keindahan
rumah hilang pintu, beralih tatapan
ke dasar kubangan, separuh hitam
sepenuhnya malam, kesadaran 
terikat pada tangis yang diam

mimpiku bangkit dari kelambu
menguak alifbata di ujung mautmu
sungai sungai ialah kubur, amsal leluhur
yang sengaja dinisankan, disembunyikan
dari daftar menu dan seremoni kunjungan

hidup masih menagih anyir getih, 
di tikungan, kau beri nama
segala yang diam dan percuma,
tak perlu puisi untuk berjuta kubik
rasa pedih, sayat lagi rintih demi rintih
ini bukan tentang aku atau siapa pun

tatap aku dengan kebisuanmu,
batu-batu dari jalur sembunyi,
melarikan jendela dari ilusi

mungkin dinihari
atau jam berdentang
searah sungai-sungai dibongkar
dari kesunyiannya, requiem pertapa
di luar kebusukan puji-puja

mari, beri tanganmu,
biarkan terbuka
segala yang terkucil
dari suara,
semboyan-semboyan
menolak keindahan,
hidup yang terus menagih
anyir getih,
 antara ingin, 
angan-angan putih,
sebelum genap sekujur pedih

banjarbaru, deras hujan, 8 desember 2025

--

NONSENS

kupancung jalan pulang
ketiadaan melangkah
sambil menghunus
alamat datang, seseorang
dengan bayangan di tangan

jantungnya ialah malam
berdetak badai berulang tulang
(ah, puisi lagi, 
apa yang lebih cukup
dari sengketa bunyi?
jalan pulang, kenyataan
yang terus dipancung
membandang mimpi
ke arah kubur ratapan)

ketiadaan yang melangkah,
lempar-buang 
segala ruang
(rumah-rumah
di balik igauan hujan,
membagi isak
ke dalam benak,
kicau yang retak
tak lagi beranjak)

banjarbaru, desember 2025

--

WADIDAW

kau bilang wadiwaw
untuk berita-berita
yang nir empati,
tenggak kabar buruk 
sekali lagi,
di sebuah website
tak bertajuk

wadidaw, katamu lagi
berita berita 
mengunduh mayat
sebagai korban tak bertuan

kabar buruk berkoak
serupa gagak,
mengirim sebagian
dari dirimu
dalam versi hitam
kehilangan
atau yang lebih rentan
dari wacana-wacana
muntah kebohongan

banjarbaru, 101215

--

KUKURUYUK

bunyikan lagi kukuruyukmu, 
bencana berkobar 
ajak nobar rasa gusar

ruang yang dibeli
seharga karung beras
petantang-petenteng
dalam tangkap layar seremoni

banjarbaru, desember 2025

--

LABIRIN

aku demi aku berjalan menyusuri
labirin yang bersengketa;
semacam drama 
dari aktor yang itu itu juga

beri saja mereka nama:
Semar, si buncit kepala dua
lepas tertawa
ke arah lambai dadah kamera
jutaan intrik layar kaca

banjarbaru, 091025

--

SEBUAH DUNIA BERULANG DILETAKKAN

wujudmu, benua retak
mengusir tatapan, sihir
 berkejaran
antara keinginan badai
mencintai paras orang mati

hamburan cermin, sebuah dunia
berulang kali diletakkan, terserak
nama-nama, hembuslah
kitab yang menukil kehancuran
barisan moyang dan tanah air
 berpindah  gelombang

inilah saatnya, kureka-ulang
pengakuan itu, angin
dan angan saling tuding
halaman-halaman
memajang benci
sebagai daya tarik etalase

wujud yang direnggut paksa
datang-pergi memoles bisikan
seolah kunjungan tak cukup
buat sekadar menangisi
(kematian
yang dikunci rapat
arakan mega berbaris keramat)

jika sempat, datanglah lagi
seberangi bayangan
lewati perang panjang
kesendirian

banjarbaru, 070925

--

PENCATAT API

api berjalan kemana-mana,
 menemukan wajahku, 
mengorek bagian terdalam
 dari namaku,
barangkali kita, kau, aku, 
segala yang biru
di luar daftar menu kehancuran

bolehlah berpura-pura,
 sebagaimana api
mencuri bayangan
 dari matamu, 

wajahku, wajahmu,
 wajah-wajah lainnya
telanjur dikecup api
 berulang kali,

api masuk ke ruang terdalam
dari kita, nama yang memilih diam
meski bintang-bintang mengejar
dengan ratusan tanya tak sudah
jawaban yang melingkar
menghapus bayangan
dari tanggal merah

sebab telah diketahuinya
satu hal; teritorial
api bukan berarti
sepenuhnya mencuri
apa-apa
yang kembali
dan tak kembali

tapi menyusun ulang
tulang-belulang 
peradaban
lama berkubang
sebagai lambang
keterasingan

banjarbaru, 110225

────୨ৎ────

Tentang Penulis: Muhammad Daffa, kelahiran Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 1999. Penikmat fiksi dan mie instan. Sering lupa kalau ditanya soal matematika. Sesekali menulis puisi untuk menjaga kewarasan. Sebagian karya-karyanya dimuat di Koran Tempo, omong-omong.com, Kompas, jernih.co, sastramedia, dan Majalah Sastra Kandaga. Bukunya yang telah terbit, “Mayat-Mayat Yang Bercerita Tentang Kematianmu”(Kumpulan Cerpen, Penerbit Arkalitera). Dapat ditemui di akun instagramnya: sebermulahujan. 

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com



0 Komentar