Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

NEGARA DALAM TANGISAN KASUARINA

 

Properti foto karya: Binsar Bakkara

Dulu, waktu kecil aku suka dengan Indonesia. Aku menyanyikan lagu Padamu Negeri dengan bahagia. Aku suka upacara apalagi bagian saat menaikkan bendera. Dulu aku suka cinta dengan Indonesia. Aku terkesima saat belajar sejarah di sekolah. Aku bangga dengan Soekarno. Aku bangga punya Megawati yang menjadi presiden perempuan pertama karena aku juga perempuan. Aku bahagia dengan hal-hal terkait negara. Aku cinta bangsaku. Aku berjanji akan mengabdi pada bangsa.

Tapi itu dulu....

Sebelum hari kemarin melanda. Berita di Aceh tentang banjir yang melanda wilayah Aceh termasuk Takengon di mana temanku berada. Temanku hilang beberapa hari dan aku menangisinya sambil mendoakannya. Aku tidak punya banyak teman dekat. Kami begitu dekat. Lalu temanku lagi di Aceh Tamiang (semoga Tuhan menjagamu, Kak) aku tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Terakhir dia di pengungsian dan membawa dua balitanya. Aku tidak tahu ke mana suaminya. Dia kelaparan berhari-hari. Aku menangis melihat dia mengirimkan betapa lusuh dan sembab wajahnya. Temanku dan teman kalian yang lain atau bisa jadi keluarga kalian yang lain telah kehilangan segalanya. Itu lebih menyakitkan dari seribu kali patah hati. Semua karena keserakahan birokrasi dan kebijakan pemerintah yang hanya tahu bagaimana memperkaya perut mereka yang sudah buncit.

Perut buncit itu adalah sumber dari segala bencana. Ia bukan hanya buncit karena gizi haram berlebih, tapi buncit karena menelan hutan, menelan sungai, menelan nyawa  dan yang paling parah, menelan janji-janji yang mereka ucapkan dengan air liur yang terciprat ke mana-mana itu. Banjir di Aceh bukan takdir. Itu adalah air mata bumi yang sudah tidak sanggup lagi menahan beban kegilaan manusia. Hutan-hutan yang dulu menahan air hujan, tempat aku belajar bersyukur atas kekayaan alam, kini tinggal lahan gundul yang disulap menjadi permadani hijau palsu yang bernama perkebunan sawit.

Sawit! Kata itu kini terdengar menjijikkan di telingaku, sama menjijikkannya dengan tawa para kapitalis yang duduk di balik meja DPR. Mereka menyebutnya komoditas emas, sumber devisa dan lokomotif ekonomi atau apalah. Aku menyebutnya kanker tanah. Mereka merangkak masuk, membawa traktor yang meraung seperti monster yang haus darah, mencabut akar kehidupan dan menggantinya dengan monokultur yang memiskinkan. Mereka membeli murah harga diri petani, membiusnya dengan angka-angka nol yang sebentar saja menguap ditelan biaya hidup yang dibuat mahal oleh sistem mereka sendiri.

Bayangkan wahai saudara! Seluruh hutan hujan tropis yang berusia ribuan tahun, ekosistem paling kaya di dunia, dihancurkan hanya demi minyak goreng yang berakhir di penggorengan kita atau lebih parah lagi, menjadi bahan bakar ramah lingkungan di negara-negara barat—sebuah ironi busuk yang tidak tertahankan. Sungai-sungai yang dulunya bening, tempat kita mandi dan mencari ikan, kini mati. Keruh, berminyak dan dipenuhi limbah kimia yang membunuh perlahan-lahan. Mereka merampas udara bersih dan meninggalkan asap tebal—kabut asap yang menjadi bencana rutin tahunan. Sebuah pengingat bahwa kita hidup di paru-paru dunia yang sedang sekarat, dicekik oleh tangan-tangan serakah.

Dan apa yang dilakukan pemerintah? Mereka mengeluarkan izin. Mereka menutup mata. Mereka—para birokrat, anggota dewan, menteri terhormat—bersembunyi di balik kata "pembangunan berkelanjutan" sambil jari mereka sibuk menandatangani berkas persetujuan. Mereka tahu persis apa yang mereka lakukan, bahwa setiap hektar hutan yang hilang berarti nyawa yang melayang saat banjir datang, atau paru-paru anak kecil yang harus menghirup debu beracun. Tapi mereka tidak peduli. Bagi mereka uang adalah agama dan pertumbuhan ekonomi adalah tuhan yang harus disembah bahkan dengan mengorbankan darah bangsanya sendiri.

Penderitaan itu tidak berhenti di Sawit. Kita punya monster yang lebih gelap dan lebih kejam yaitu Tambang Batu Bara.

Di Kalimantan, di Sumatra, di mana-mana. Tanah-tanah adat yang diwariskan turun-temurun, tempat kuburan leluhur, tempat kearifan lokal bersemi, tiba-tiba diinjak-injak oleh sepatu bot asing. Mereka datang dengan janji manis. Sebuah pekerjaan, sebuah sekolah atau jalanan yang diaspal. Mereka membeli tanah rakyat biasa dengan harga yang bagi orang desa terasa besar, tetapi bagi mereka itu hanyalah harga segelas kopi. Kebahagiaan semu itu tidak bertahan lama. Dalam hitungan bulan, lahan sawah yang dibeli berubah menjadi kawah raksasa yang menganga.

Lubang-lubang bekas tambang ditinggalkan begitu saja. Ia menjadi danau asam berwarna hijau neon yang mematikan. Jebakan maut bagi anak-anak kecil yang mencari kesenangan di sekitarnya. Sudah berapa banyak korban yang tenggelam di lubang-lubang dosa ini? Puluhan atau ratusan kita tidak tahu. Dan apakah ada yang bertanggung jawab? Tentu tidak. Perusahaan melarikan diri, izin mereka dicabut di atas kertas dan lubang neraka itu tetap ada. Bercokol abadi sebagai monumen atas kegagalan negara melindungi rakyatnya.

Aku muak dengan pemandangan di sekitar. Aku muak dengan tanah yang berdebu hitam, udara yang terasa berat, dan janji-janji kosong yang melayang di udara. Kami tidak lagi bicara tentang menaikkan bendera dengan bangga, kami hanya bicara tentang bagaimana bertahan hidup di tengah sisa-sisa kehancuran yang ditinggalkan oleh elit politik. Dulu, kata "Tanah Air" terasa begitu sakral. Sekarang? Tanah sudah dikeruk dan dijual, sementara Air sudah tercemar. Apa lagi yang tersisa dari diksi itu selain kepalsuan belaka?

Soekarno, Proklamator yang kubanggakan, pasti akan menangis melihat bagaimana bangsanya—yang dia perjuangkan dengan darah dan air mata—kini ditindas oleh bangsanya sendiri. Oleh anak-anak ideologisnya yang kini hanya mengenakan jas mahal dan memamerkan rekening gendut mereka. Menormalisasi kejahatan mereka dengan mengatakan seandainya kami, rakyat ini berada di posisi mereka maka kami akan lebih jahat dari mereka. Hei, bodoh! Tidak semua orang terlahir menjadi penjahat.

Aku tidak lagi menemukan jejak masa depan di sini. Semua yang kulihat sekarang seperti hantu-hantu masa lalu. Kenangan tentang upacara bendera, tawa riang temanku dan janji suci yang pernah kuikrarkan. Cinta itu sudah mati. Ia mati perlahan, tercekik oleh asap, tenggelam dalam lumpur banjir, dan terkubur di bawah tumpukan uang haram yang mengotori negeri ini. Indonesia yang kucintai hanyalah ilusi yang kutinggalkan, sebuah museum sejarah yang menyakitkan.

Aku tidak lagi berhasrat mengabdi. Aku tidak lagi berjanji. Karena bangsa yang kucintai itu sudah lama menjual jiwanya kepada iblis keserakahan dan yang tersisa hanyalah kebencian dingin dan kekecewaan yang tidak terobati. []

────୨ৎ────

Tentang penulis: Kasuarina, berasal dari Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Aktif menulis novel di platform menulis online.

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com


 

0 Komentar