Kehilangan merupakan kondisi terpisah dari sebelumnya ada atau dimiliki. Baik sebagian maupun keseluruhan, mengacu kepada orang terkasih, pekerjaan, kesehatan, atau barang berharga lainnya. Memicu respons emosional mendalam berupa duka, kesedihan, marah, atau bahkan penolakan. Parahnya kehilangan memicu transformasi hidup dan peluang pertumbuhan diri seseorang, terlebih penyair yang kehidupannya bergumul dengan puisi.
Maka saya mencoba mendiagnosa kehilangan yang dialami oleh Wildanne Barri Fida sebagai seseorang yang beberapa tahun ini muncul ke permukaan jagat kesastraan Indonesia di Kalimantan Selatan. Wildanne Barri Fida mengungkapkan bahwa sastra terkhusus puisi menjadi salah satu medium untuk menyalurkan hasrat yang membentur kejiwaannya selama ini. Dari pernyataannya pada sebuah forum itulah membuat penulis masuk lebih dalam menganalisa, mendiagnosa sampai mendapatkan prognosis dari kejiwaan Wildanne Barri Fida melalui puisi karyanya.
Guna mendapatkan diagnostik lebih dalam saya menggunakan pendekatan terapeutika atau Psychopoetry yang lebih luasnya dikenal terutama di belahan Amerika Serikat. Terapeutika merujuk pada segala sesuatu yang berkaitan dengan proses penyembuhan atau terapi. Sering kali terapeutika merujuk pada terapi komunikasi antara pasien dengan perawat, dokter/terapis maupun orang terdekatnya. Dengan terapeutika saya terapkan pada terapi sastra (penggunaan teks untuk mendekati jiwa penyair melalui puisi) dengan tujuan utama memfasilitasi pemulihan, pertumbuhan diri, dan peningkatan kesejahteraan penyair melalui pendekatan terstruktur dan fokus tafsir teks puisi terhadap penyairnya.
Terapeutika perlahan diterapkan pada puisi “Peringat Kehilangan” karya Wildanne Barri Fida, berikut tubuh pasien (puisi) yang kita diagnostik;
Peringat Kehilangan
1.
Andai puisi bisa menyelamatkanmu
Dari duri dan jalan yang berbatu
Andai mulutku lebih tajam dari lumut
Dan doa adalah serdadu tanpa perang
Berkelana di padang gersang. Andai
Puisi bisa menggenggam tanganmu
Merengkuh lebih erat dari daging
Menopang lebih kuat dari tulang
Kita akan berkelana di malam panjang
Di bawah bintang-bintang, melihat laut
Dan berenang sampai jari-jarimu membiru
Membayang apa yang ada di seberang
Neraka? Atau surga yang buruk
2.
Andai puisi bicara lebih
Baik dari hati yang busuk.
Andai kita bicara lebih banyak
Mengenai jari-jemari
Dan luka di tanganmu
Andai air mata adalah pintu
Terakhir kali kau akan menangis
Andai kamar kita lebih luas dari hujan
Mimpi yang lebih dari sekedar malam
Andai suara ini
Sampai ke sisimu
(November, 2025)
Puisi “Peringat Kehilangan” di Omong-Omong.com ini tampil dengan tipografi inkonvensional naratif serta penggunaan pembaitan distikon (2 pembagian dalam 2 bait dengan jumlah masing-masing yaitu 13-11). Tipografi demikian sudah lama digunakan dalam puisi-puisi kuno zaman dahulu (tradisi lama yang mengakar dari budaya lisan ke tulisan di berbagai peradaban), tetapi sekarang banyak penyair modern yang mengadopsinya ke dalam pola puisi-puisi yang lebih bebas dalam pakem struktur. Fungsinya sama sebagai pembeda atau mengorganisir gagasan serta memberikan pola irama dan rima, lebih jauh lagi bahkan membawa makna simbolis dalam puisi-puisi gelap tertentu.
Pada dasarnya sebelum menulis kiranya kita mesti mengetahui pola struktur demikian seharusnya dalam satu angka haruslah terdiri dari satu bait, sedangkan bila distikon sebagaimana puisi “Peringat Kehilangan” ini maka diisi dengan dua bait pula, seterusnya dengan pola terzina, kuatrien (quatrain), sektet dan seterusnya dalam karya sastra. Oleh sebab itulah sastra dinamakan karya adiluhung yang bernilai tinggi serta wajib dipelihara karena memiliki pakem struktur yang indah dan wajib ditaati, dalam konteks sekarang sastra modern puisi. Sehingga seorang penyair jangan hanya sekadar melihat pola tuang puisi modern dari penyair lain lalu menuangkan sebebasnya pada penciptaan karya berikutnya. Penyair demikian akan menyebabkan kerja vandelisme terhadap karya sastra, disadari atau tidak inilah yang juga dialami oleh Wildanne Barri Fida pada karyanya “Pengingat Kehilangan” kali ini. Penyair mendobrak hal lazim sebagai pembebasan psikisnya sehingga fisik puisi menjelma medium sasaran. Meski berontak pada belenggu keadaan, puisi Wildanne Berri Fida tetap tak kehilangan unsur estetis dan tak melupakan unsur puitis.
“Peringat Kehilangan” menjadi kepala (judul) puisi ini, sebagaimana berfungsinya jaringan struktur kompleks di dalamnya. Mulai dari cerebrum, cerebellum, batang otak, sampai saraf-saraf pelindung atau meninges melakukan kerjanya sebelum turun menyalurkan ke seluruh tubuh, informasi diolah pada otak kepala subjek. Termasuk pemberian judul puisi ini menjadi “Peringat Kehilangan”, dua kata menyatu dengan lorong pemaknaan yang hilang di antaranya. Mengapa demikian, kata peringat secara harfiah tidak memiliki arti mutlak sehingga kata tersebut apakah mengacu berasal dari kata tunggal ingat berarti berada dalam pikiran atau tidak lupa, kata peringatan artinya nasihat atau teguran, mungkin dari kata pengingat yang berarti mengingatkan atau saling diingatkan. Lagi-lagi ditemukan diagnostik atas penyakit kontradiksi yang diidap oleh penyairnya, tapi analisa saya lebih cenderung berpihak pada akar kata pengingat (berfungsi sebagai mengingatkan).
Kata ingat menjadi asal kata permulaan, lalu apabila dari kata peringatan yang dimutilasi penyair menyisakan kata peringat. Kata ke- dan -an tak dapat dipisahkan karena kata imbuhan konfiks yang membentuk kata nomina maupun verba baru yang menyatakan sebuah kegiatan, proses maupun hal lain yang mendasar pada landasan akar kata yang diikutinya dalam bahasa Indonesia. Sehingga diagnosa akhir terhadap pengambilan kata awal pada judul puisi ini merujuk pada kata pengingat yang diadopsi penyair menjadi peringat. Karena kata ingat apabila dipasangkan prefiks pe- akan bertambah menjadi peng-ingat bukan peingat, peningat apalagi peringat, karena pengingat merupakan kata nomina sebagai penunjuk mengingatkan atau memberitahukan kembali suatu pengalaman atau sesuatu lainnya yang sering terlupa. Tetapi dalam judul di puisi Wildanne Barri Fida menggunakan kata peringat. Sungguh ini merupakan pemberontakan kembali terhadap akar gramatika bahasa yang telah ada dan dirumuskan selama ini.
Sedangkan di kata kedua pada judul ada kehilangan berarti hal maupun sesuatu yang hilang, salah satunya disebabkan oleh kematian maupun alasan lain sehingga menyebabkan kehilangan. Semua orang merasakan kehilangan ini tentunya pada setiap makhluk yang bernyawa dan berakal. Di sinilah kata kunci dari pelampiasan jiwa penyair terhadap kata kepada puisi, yaitu kehilangan. Sehingga judul yang benar secara kaidah seharusnya “Pengingat Kehilangan” artinya mengingat kehilangan sebagai kewaspadaan diri aku liris maupun pembaca sendiri. Sedangkan kata “Peringat Kehilangan” berarti kekosongan yang kehilangan, (tak bermakna)-kehilangan, ada kerumpangan yang hilang pada tafsir makna dan kehilangan pada pengertian (tidak memiliki makna). Jadi, penyairnya sehat?.
Memang kredo Sutardji Calzoum Bachri dahulunya adalah membebaskan kata dari beban makna, sehingga kata tak terikat dengan makna sebenarnya. Barangkali Wildanne Barri Fida juga penganut paham ini dalam puisi “Peringat Kehilangan” atau sebaliknya penyair semata hanya pelampiasan klimaks kepada makhluk sastra yang dinamakan puisi.
1.
Andai puisi bisa menyelamatkanmu
Dari duri dan jalan yang berbatu
Andai mulutku lebih tajam dari lumut
Dan doa adalah serdadu tanpa perang
Diagnostik perlahan merambah ke batang tubuh puisi “Peringat Kehilangan” pada bagian pertama di bait 1 Andai puisi bisa menyelamatkanmu/ Dari duri dan jalan yang berbatu/
Andai mulutku lebih tajam dari lumut/ Dan doa adalah serdadu tanpa perang//, di pembuka awal saja penyair sudah berkata dengan sebuah penyelamatan (menyelamatkanmu) kenyataan ironi jiwa sudah terbangun sejak awal puisi, bagaimana sebuah pertolongan datang dari anugerah Tuhan melalui medium puisi sehingga penyair mengumpamakan kepada pembaca apa yang sedang dialaminya sebagai sebuah perandaian; Andai puisi bisa menyelamatkanmu/ Dari duri dan jalan yang berbatu/, duri sebuah metafor kesakitan, keperihan, kedukaan dan jalan yang berbatu metafor rintangan atau cobaan yang sedang dihadapi, dan Andai mulutku lebih tajam dari lumut/ Dan doa adalah serdadu tanpa perang//, sesuatu yang tertahan barangkali tak dapat diungkapkan sembarang oleh penyairnya juga terasakan pada larik ini. Diibaratkan suara teriakan, pekikkan atau bahkan gaungannya dari mulut sepertinya masih tidak mampu memuaskannya sehingga mencari frasa lain yang dapat mengungkapkannya lebih dari sekadar kekerasan suara. Hal unik terdeteksi di sini, yaitu kata lumut muncul, apa hubungan mulut dengan lumut? Mengapa penyair berandai memberi perbandingan sangat jauh antara mulut sebagai bagian dari manusia dengan lumut yang notabenenya tumbuhan tingkat rendah (Bryophyta). Lumut apa yang tajam, sejauh pelacakan maka kita akan temukan lumut tanduk (Anthocerotophyta) berkarakteristik meruncing-runcing menyerupai tanduk. Tetapi setajamnya lumut tetaplah tumbuhan halus yang lembut, ini sangat bertentangan dengan arti harfiah yang dipakai oleh penyair pada larik ini, sehingga ini merupakan frasa penyair yang mengambil secara kata yang tidak jauh dari mulut yaitu lumut sehingga pakem rima akhir berlaku pada bait ini antara mulut-lumut. Ternyata bentuk terapi yang dapat kita ambil dari larik ini adalah penyair tidak ingin semua dalam mulut (batin) disampaikan dengan kekerasan melainkan dengan kelemah-lembutan. /Dan doa adalah serdadu tanpa perang// larik ini menyambung sekaligus mendukung larik sebelumnya bahwa kelembutan itu menemu cara terapinya sendiri melalui doa. Sebagaimana seorang serdadu tanpa perang artinya bentuk kepasrahan namun telah siap menanggung segalanya, termasuk walau diharuskan perang sekalipun. Tetapi perang sesunggunya di sini adalah perang terhadap gangguan yang menyerang jiwa sendiri. Pada larik ini saya terkenang puisi W.S. Renda berjudul “Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang”.
Berkelana di padang gersang. Andai
Puisi bisa menggenggam tanganmu
Merengkuh lebih erat dari daging
Menopang lebih kuat dari tulang
Pada bait kedua bagian 1, Berkelana di padang gersang. Andai/ Puisi bisa menggenggam tanganmu/, perjalanan yang teramat gersang, hampa dan ketiadaan suatu apapun ditempuh batin kehidupan penyair di sini, sehingga sesiapa yang dapat menolong dan berpangku tangan untuknya maka tak ada, selain kembali kepada puisi sebagai frasa sang penolong yang bisa menggenggam tangannya. Merengkuh lebih erat dari daging/Menopang lebih kuat dari tulang//, larik puitis ini meneguhkan lagi sebuah pertolongan yang diharapkan penyair kepada si “puisi” bahwa rengkuhan dan pelukan erat melebihi daging, karena daging sangat lekat dengan segala yang menyatu dengannya (serat, urat, tulang, kulit bahkan darah sekalipun) frasa kesetiaan yang tak ingin terpisahkan. Menopang atau menyangga dan menahan agar aku liris tidak jatuh (terpuruk) bahkan mati, diharapkannya lagi sekuat tulang yang frasa ini memang tepat karena tulang bagian dari terkuat di tubuh makhluk hidup, terutama tulang sulbi manusia yang tak akan hancur sampai hari kiamat tiba.
Kita akan berkelana di malam panjang
Di bawah bintang-bintang, melihat laut
Dan berenang sampai jari-jarimu membiru
Membayang apa yang ada di seberang
Neraka? Atau surga yang buruk
Di bait akhir bagian pertama, kita disuguhkan penyair dengan nostalgia penjelajahan yang berbunyi; Kita akan berkelana di malam panjang/ Di bawah bintang-bintang, melihat laut/ Dan berenang sampai jari-jarimu membiru/ Membayang apa yang ada di seberang//, ketika aku liris sudah merasa kuat jika mendapatkan penolong lewat puisi yang membuatnya sudah sanggup tegak. Kini mengajak pembaca sebagai salah satu penopangnya untuk berkelana; berkelana di malam panjang bentuk metafora yang dibangun untuk menyatakan selama ini telah menjelajah (pencarian) pada dunia yang gelap, dunia yang mengukung jiwa dan batinnya sehingga membuatnya mencari pelarian agar tetap merasa baik-baik saja. Setelah keluar dari dunia itu, aku liris Di bawah bintang-bintang sebagai kegembiraan dan suatu kesenangan, kemudian melihat laut, Dan berenang sampai jari-jarimu membiru, metafor yang mengisyaratkan bekas perjuangan panjang dan kesakitan itu membekas hingga hari ini, bukan lagi berupa luka batin tetapi menjadi luka luar yang lebam membiru (kenyataan). Pada puisi ini membuat analisa saya sedikit terkejut adalah penyair Membayang apa yang ada di seberang//, sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan, bukan di seberang secara indra duniawi melainkan seberang dari dunia metafisika yaitu Neraka? Atau surga yang buruk. Lagi-lagi tekanan pikiran Wildanne Barri Fida sangat tenang namun mengacaukan. Bagaimana sebuah surga dikatakan buruk, padahal selama ini kita mengenal surga sebagaimana di kitab suci semua agama menyatakan surga adalah tempat seluruh kenikmatan berada.
2.
Andai puisi bicara lebih
Baik dari hati yang busuk.
Andai kita bicara lebih banyak
Mengenai jari-jemari
Dan luka di tanganmu
Andai air mata adalah pintu
Terakhir kali kau akan menangis
Andai kamar kita lebih luas dari hujan
Mimpi yang lebih dari sekedar malam
Andai suara ini
Sampai ke sisimu
Diagnostik menyasar lebih dalam ke bait 1 bagian 2; Andai puisi bicara lebih/ Baik dari hati yang busuk./ Andai kita bicara lebih banyak/ Mengenai jari-jemari/ Dan luka di tanganmu. Penyair masih terus menterapi dirinya dengan perandaian, tidak hanya dengan perbuatan semata melainkan juga mengharapkan ada yang mendengarkannya ketimbang sifat yang busuk, manusia dengan segala iri dengki dan niat tak baik terhadap aku liris dalam puisi kali ini. Termasuk membicarakan masalah remeh-temeh tapi fatal risikonya, mulai dari goresan di jari-jemari (hal kecil yang terlewati selama hidup) sampai pada luka di tangan (bentuk prasa suatu masalah besar maupun tentang kalbu yang teriris lalu terdinding oleh tiap metafora yang ada). Puisi penyair Wildanne Barri Fida berusaha menuntut pembaca untuk tidak terlalu berat berpikir tapi sebaliknya penyair menyampaikan dengan cukup sederhana, menjadikan salah satu terapi diagnostik terapeutika terhadap mental health yang dideritanya.
Andai air mata adalah pintu
Terakhir kali kau akan menangis
Andai kamar kita lebih luas dari hujan
Mimpi yang lebih dari sekedar malam
Kendati penyair kembali bersuara Andai air mata adalah pintu/ Terakhir kali kau akan menangis/, akhirnya penyair menemukan jalan dan arah yang selama ini jadi kegelisahan penyakit penyair. Di mana doa-doa begitu banyak dihaturkan sebagai pintu langit yang membuka siapa saja untuk meminta dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai air mata menetes tak terbendung. Padahal manusia memang sebenar-benarnya makhluk peminta-minta yang tak akan pernah puas sebelum tanah menyumpal mulut mereka. Pada larik ini penyair menterapi aku liris sendiri agar lepas dari trauma hingga penderitaan selama ini, terhadap perlakuan orang lain atau lingkungan sekitar di masa lalu. Andai kamar kita lebih luas dari hujan/ Mimpi yang lebih dari sekedar malam//, penyair mengharapkan ruang gerak diri yang lebih luas, bebas, hingga tak terbatas. Larik ini mencerminkan karakter, jiwa dan mental penyair yang menginginkan semuanya tak lagi terikat dalam hidup. Diagnostik menemukan adanya keinginan melarikan diri dari keterbatasan dan meraih harapan atau janji di luar kenyataan. Pada akhir bait ini pun penyair terus ingin harapan yang besar dan bukan yang sebentar, tetapi harap yang kekal baginya agar lebih baik dari sebelumnya.
Andai suara ini
Sampai ke sisimu
Puisi “Peringat Kematian” ditutup Wildanne Barri Fida dengan dua larik yang puitis, Andai suara ini/Sampai ke sisimu. Bait akhir penutup ini sebuah angan atas segala keinginannya termasuk sembuh dari masa lalu, tujuan ke sisimu bersifat ambigu, baik terhadap subjek sesama maupun subjek tertinggi yang menyandang predikat Sang Realitas Mutlak.
Diagnostik terapeutika kehilangan terlihat jelas sudah pada Wildanne Barri Fida sebagai penyair yang memperlakukan puisi sebagai pelampiasan jiwa. Mengapa terapeutika yang diambil Widanne Barri Fida sebagai jalan sunyi terapinya, karena terapi sastra bermedium puisi yang berwujud teks memiliki daya frekuensi bila ditulis dan dibacakan. Pada dasarnya puisi merupakan kumpulan bunyi sebelum menjadi kata, larik, bait dan membentuk alat terapi sastra bernama puisi. Takrif ini turut didukung pula oleh Handoko F Zainsam, seorang budayawan lulusan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) atas penelitiannya mendalami terapeutika. Puisi sama halnya dengan sastra mantra dan pantun yang sangat erat dan penuh dengan kumpulan pendulum bunyi yang enak didengarkan telinga sehingga adanya pendalaman batin dan penenangan jiwa ketika mendengar dan menuliskan bunyi dalam puisi mejadi media pelepas (terapi) ketika segala gejolak gangguan dalam kejiwaan disampaikan dengan penulisan maupun pembacaan puisi.
Sama hal Sapardi Djoko Damono, sang sastrawan, Dosen Universitas Indonesia (UI) berfatwa dalam tradisi lisan (mantra, jampi termasuk puisi) unsur bunyi merupakan segi yang sama pentingnya dengan makna. Bahkan dalam banyak hal, bunyi membimbing atau menentukan makna pada tiap ketukannya pada sebuah puisi. Dalam perkembangan sastra modern sekarang, bunyi tetap merupakan warisan yang berharga bagi puisi tulis. Huruf-huruf sebelum tercetak di atas ketas berubah menjadi bunyi terlebih dahulu dalam pikiran kita sebelum menjelma makna. Kendati demikian terapuetika menjadi alasan utama penggunaan puisi sebagai alat terapi dalam bentuk linguistik.
Edge
(Tepi)
The woman is perfected.
(Wanita itu telah disempurnakan.)
Her dead
(Tubuh matinya)
Body wears the smile of accomplishment,
(Mengenakan senyum pencapaian,)
The illusion of a Greek necessity
(Ilusi keharusan Yunani)
Flows in the scrolls of her toga
(Mengalir dalam gulungan toganya)
Her bare
(Kaki telanjangnya)
Feet seem to be saying:
(Seolah berkata:)
We have come so far, it is over.
(Kita telah sampai sejauh ini, sudah selesai.)
Each dead child coiled, a white serpent,
(Setiap anak yang mati melingkar, ular putih)
One at each little
(Satu di setiap teko susu kecil, kini kosong.)
Pitcher of milk, now empty.
(Teko susu, sekarang kosong.)
She has folded
(Dia sudah menyerah.)
Them back into her body as petals
(Mereka kembali ke dalam tubuhnya sebagai kelopak bunga.)
Of a rose close when the garden
(Dari bunga mawar yang dekat saat taman)
Stiffens and odors bleed
(Mengeras dan mengeluarkan bau)
From the sweet, deep throats of the night flower.
(Dari tenggorokan bunga malam yang merdu dan dalam.)
The moon has nothing to be sad about,
(Bulan tidak punya alasan untuk bersedih,)
Staring from her hood of bone.
(Menatap dari balik tudung tulangnya.)
She is used to this sort of thing.
(Dia sudah terbiasa dengan hal semacam ini.)
Her blacks crackle and drag.
(Pakaian hitamnya berderak dan terseret.)
Puisi indah yang diterjemahkan di atas berjudul “Edge” (Tepi) (Kumpulan Puisi, HarperCollins Publisher Inc, 1992) adalah salah satu hasil dari terapeutika karya Sylvia Plath (penyair Amerika Serikat, kelahiran 1932). Bahkan Jyce Carol Oates dirilis dalam New York Times Book Review menyebutkan Sylvia Plath mengeksplorasi penderitaan mental yang tak jarang berupa depresi, kecemasan berlebih hingga pengalaman-pengalaman menyakitkan dalam hidupnya yang menyerang mentalnya sendiri tertuang melalui terapi puisi yang memberikan suara atau bunyi tersendiri atas pelampiasan psikologisnya. Meski akhirnya Sylvia Plath meninggal dunia dengan tragis di tahun 1963 karena menghabisi dirinya sendiri. Lewat kisah penyair Sylvia Plath maka diketahui penerapan terapuetika sudah berkembang sejak lama.
Sedangkan perlu diingat dalam fungsi terapan terapeutika ini, kualitas dan mutu karya tidak terlalu diutamakan alias tidak dipermasalahkan. Peran bunyi lebih penting sebagai terapi penyembuhan dan pemulihan bagi pasien gangguan dalam kasus ini. Jauh lebih penting melalui puisi mengajak tumbuh bersama, dari yang rapuh tersentuh menjadi kuat dan utuh.
Baik Sylvia Plath maupun Wildanne Barri Fida telah memilih jalan yang baik dalam terapi psikologisnya melalui terapi puisi. Diagnostik terapeutika pada karya maupun mereka berdua memiliki kasus yang berbeda tetapi terapeutika alat yang tepat untuk mengulik ke penyakit terdalam jiwa penyair melalui medium terapi seni sastra, puisi.
Prognosis akhir, berdasarkan pendekatan diagnostik terapeutika, saya merasa dapat lebih dekat dan lekat memahami gejolak kejiwaan Wildanne Barri Fida membuat impati saya tergerak untuk menganalisis. Didapatkan bahwa prognosis pada terapeutika “Peringat Kehilangan” adalah distimia (depresi ringan), traumatik, intensitas menarik diri dari sosial, dan gejala introvert juga memperparah sehingga pelampiasannya dunia sastra. Demikian diagnostik terapeutika kehilangan terhadap puisi “Peringat Kehilangan” karya Wildanne Barri Fida yang mengaplikasikan terapi puisi untuk psikologisnya selama ini, sehingga puisi mampu jadi penyelamat dari kehilangan sebelum semua terlambat.
Kritik sastra umum ini sebagai kado istimewa Willdane Barri Fida, pulih, sembuh dan teruslah tumbuh.[]
2025
Sumber Rujukan:
- Wellek, Rene., & Warren, Austin. (1989). Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Damono, Sapardi Djoko (2016), Buku Apresiasi Puisi, Bilang Begini Maksudnya Begitu. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Shadiq, Adil (2024). Terapi Psikologi. Jakarta: Gemilang.
- Fida, Wildanne Barri. (2025, 22 Desember). Peringat Kehilangan dan Puisi Lainnya. Omong-omong.com. Diakses pada 29 Desember 2025. Dari https://omong-omong.com/peringat-kehilangan-dan-puisi-lainnya/.
- Nurjaman, Rusman (2013, 12 Juli). 'Psychopoetry', Terapi lewat Puisi. Intisari, Smart and Inspiring. Diakses pada 29 Desember 2025. Dari https://intisari.grid.id/read/0373629/psychopoetry-terapi-lewat-puisi.
- Maulana. (2024, 22 Juni). Puisi dan Bunyi: Media Terapi Paling Klasik. Mistar.Id. Diakses pada 29 Desember 2025. Dari https://mistar.id/news/medan/puisi-dan-bunyi-media-terapi-paling-klasik.
────à¨à§Ž────
Tentang Penulis: REZQIE M. A. ATMANEGARA lahir dan menetap di Hulu Sungai Tengah. Penghargaan Hadiah Seni (Sastra) dari Walikota Banjarbaru-Kalimantan Selatan (2015), Penghargaan Apresiasi Maestro Pelestari dan Pengembang Bahasa Banjar dari Asosiasi Sastra Lisan (ATL) (2024), dan Anugerah Kebudayaan dari Gubernur Kalimantan Selatan (2025).
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar