Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

BAGAIMANA MUNGKIN SEORANG PENYAIR BISA MEMBENCI HUJAN, CERPEN ZULFAN FAUZI


 “Ah, kamu aneh. Bagaimana mungkin ada seorang penyair kok bisa membenci hujan? Harusnya kan penyair dan hujan itu laiknya sepasang kekasih. Kalau ibarat perempuan maka hujan adalah kekasih yang lembut, pengasih, dan romantis. Sedangkan jika ia lelaki maka hujan adalah kekasih yang penyabar, pekerja keras dan sopan santun. Dan dari persanggamaan penyair dan hujan kelak lahirlah anak-anak mereka yang bernama puisi,” ucapmu sembari menertawakanku.

Bulu kudukku meremang, bukan karena rasa dingin yang diam-diam menyergap atau pituah lelaki berambut gondrong dengan mulut berbau tembakau di depanku. Namun, karena hujan yang sedari pagi tadi belum jua reda. Rintik-rintik yang kian menderas di atap rumah itu menjelma seakan tangan-tangan kasar dari penagih hutang yang menggedor-gedor pintu.

Jaket kupakai dengan lekat, tanganku memeluk kedua lutut dengan erat. Sementara lelaki gondrong di depanku dengan bertelanjang dada memandang ke arah halaman rumah yang semakin tergenang karena limpahan air hujan yang tak mampu lagi ditampung oleh sungai.

Pemuda berambut gondrong itu masih saja tertawa. Bau tembakau terbakar dan asap rokok menguar beriringan tempias hujan di beranda rumah tempat kami berdua berada. Aku memeluk diriku erat, semacam mencari rasa aman palsu yang ditawarkan kedua lututku.

“Seharusnya hujan itu puitis, harusnya hujan itu romantis,” ucap lelaki bertelanjang dada itu sembari berdiri. Ia menghentikan tawanya, ia menatap ke arahku sebentar, lalu kemudian memandangi halaman rumah yang semakin tergenang dan tenggelam.

**

Orang-orang di pusat pemerintahan menyebutnya sebagai akibat dari cuaca ekstrim, sedangkan orang-orang di kampungku menganggapnya hanya sebagai ujian keimanan. Namun, bagi mereka yang punya kesempatan sekolah tinggi dan ‘makan bangku sekolahan’ pasti tahu ini lebih dari sekedar efek cuaca ekstrim atau ujian dari Tuhan agar hambanya naik kelas. Namun, seperti mereka akupun begitu, kami semua pura-pura tidak tahu, dan hanya berharap semua ini segera berlalu.

Seandainya saja waktu itu kakekku tak terbangun di penghujung malam untuk berduaan saja dengan Tuhannya, mungkin semua akan terlambat. Tubuh kakekku seakan punya jam weker biologis yang secara alami akan membangunkannya tiap pukul 3 pagi. Saat dirinya terbangun untuk berduan dengan Tuhannya, tetiba saja ia mendapati air sudah semata kaki masuk ke dalam rumah.

Alhasil, niatnya untuk bertahajud itu buyar berganti dengan membangunkan orang serumah. Aku terbangun karena mendengar suara ribut dan juga tangisan adikku yang baru saja lahir seminggu yang lalu. Aku mendapati ayah dan kakek mengangkati barang elektronik ke atas meja, sementara ibu dalam sisa-sisa kepayahan dan rasa lelah karena baru seminggu yang lalu melahirkan adikku pun tak kurang sibuknya, adikku diamankan dalam gendongannya, sementara ia sibuk membungkus pakaian, popok dan susu formula dalam kantong plastik.

Semakin deras hujan di luar rumah, semakin dalam air masuk ke dalam rumah. Seperti tetes tinta yang jatuh di bak mandi, rasa dingin mulai merayapi kakiku yang terbenam air hingga semata kaki. Sementara itu ayah dan kakekku semakin bergegas menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan. Karung-karung beras hasil panen tahun lalu pun harus direlakan, karena banjir yang datang tiba-tiba, tanpa ampun menenggelamkan kindai alias tempat menyimpan beras di belakang rumah.

“Bagaimana ini?” tanya kakek, wajahnya pias sembari menarik diriku agar dekat dengannya. Sesekali ia masih melihat ke arah kindai penyimpanan hasil panennya tahun ini, wajahnya tergurat kekecewaan.

“Kita mengungsi ke balai desa saja, tetangga yang lain pun pasti menuju ke sana!” sahut ayahuku. “Kita bawa yang penting-penting saja, apa yang sudah tak bisa diselamatkan kita relakan,” sambungnya lagi, sembari matanya memandangi kami mencoba meyakinkan.

Hujan yang semakin deras di luar mengakibatkan air yang memasuki rumah meninggi semakin cepat, dari yang awalnya hanya semata kaki kini menjadi selutut. Di halaman rumah banjir sudah menenggelamkan jalan, dua sepeda motor, pagar rumah, pot bunga milik ibu, dan ari-ari adikku yang ditanam di halaman.

“Ma,” ucapku pelan sambil kupegangi lengan bajunya. Di wajahnya terpatri kecemasan, namun ia tersenyum ketika aku menyebut namanya, sorot matanya seakan mengatakan semua akan baik-baik saja.

Saat ayah dan kakekku masih bimbang untuk meninggalkan rumah dan berharap hujan segera reda, tiba-tiba saja listrik padam. Dini hari yang gulita, rumah dan seluruh kampung kami kehilangan sumber pencahayaan. Tapi ada satu hal pasti yang disepakati ayah dan kakekku, listrik  padam adalah suatu pertanda bahwa banjir sudah semakin dalam.

Dan bertahan di dalam rumah tak boleh menjadi pilihan.

Lalu pada dini hari yang gulita, kami berlima, aku, ayah, kakek, dan ibu serta adikku pun menerobos banjir sebelum semakin dalam dan arusnya semakin deras. Kami menerobos banjir yang sudah setinggi perut laki-laki dewasa, aku ada di gendongan ayah, adikku yang belum diberi nama diletakkan di dalam baskom beralas tumpukkan baju sembari ibu memayunginya, lalu kakek ada di paling belakang.

Kami berjalan berbaris dengan masing-masing pinggang diikat seutas tali agar kami tak terpisah atau tiba-tiba hanyut, karena bisa saja air yang menderas tiba-tiba datang dari gunung yang ditambang di belakang desa kami menyebabkan kami terpencar. Karena proyek pertambangan, maka hutan-hutan di belakang desa kami tanahnya sudah tak mampu menahan derasnya hujan ditambah pula pelebaran jalan yang harus menyempitkan dan mendangkalkan sungai di sekitaran desa.

Sudah setengah jalan, kami sudah ada di gerbang desa, sebelum tetiba saja hujan menderas. Adikku yang terkena tempias hujan pun menangis, udara terasa semakin dingin, wajah ayah pun terlihat semakin cemas. Jalan yang kami tempuh semakin sukar, beberapa kali kakekku terperosok lumpur dan untung saja di pinggang kami terikat tali sehingga ia tidak dihanyut banjir.

Sudah tidak ada jalan kembali lagi, kami harus menerobos banjir dan sampai ke balai desa. Dalam perjalanan ke balai desa sedikit demi sedikit permukaan air naik, aku merasakannya seperti tangan usil yang menggelitik telapak kaki dan terus menjalar naik.

Hingga ketinggian air sudah sedada orang dewasa, aku pun tak lagi dalam gendongan ayah tapi duduk di antara bahunya. Air yang turun dari atas pegunungan semakin deras, langkah-langkah kami terasa semakin berat, beberapa kali ranting-ranting pohon yang patah menerjang kami. Hingga beberapa saat kemudian hal buruk yang paling membekas dalam hidupku pun tiba.

Saat itu aku tengah menengok ke belakang, ke arah adikku yang berada di dalam baskom, ketika tiba-tiba saja sebuah pohong tumbang yang dihanyut banjir dari atas pegunungan menghantam tepat  ke arah ibuku. Ia terkejut dan berteriak tapi bukan karena rasa sakit terkena hantaman batang pohon hanyut. Namun, karena baskom yang berisi adikku terlepas dan terhanyut.

Sontak ayah menyerahkanku ke gendongan ibu, lalu melepas ikatan tali di pinggangnya dan berenang menuju baskom adikku yang terhanyut.

Ayah mengejar baskom yang dibawa arus banjir dengan setengah berlari dan setengah berenang. Dalam pengejarannya, ia harus berjibaku dengan limpahan air yang mengamuk, lumpur patahan dahan kayu, serpihan papan rumah orang yang terlepas dihantam banjir yang jatuh dari atas pegunungan.

Arus yang membadai datang dari arah gunung yang perutnya dibelah. Tepat di belakang desa kami, mungkinkah para roh gunung itu kini menuntut balas? Dendam puluhan tahun karena isi perutnya dikuras, kini mereka ingin kami membayarnya tuntas.

Aku memeluk ibuku erat, di dalam gendongannya rasa dingin merayap, gigil tubuhnya beriringan dengan dengus napasnya yang berat. Kupeluk dirinya semakin erat, tak tahu kenapa? Insting alamiku sebagai seorang anak menyuruh untuk begitu.

Kakek dan ibu semakin terlihat cemas, apalagi ketika semakin banyak patahan dahan pohon yang menghalangi usaha ayah dalam upayanya menyelamatkan adik. Semuanya seakan terlihat semakin mustahil, seakan dendam gunung dan hutan tersalur melalui amukan banjir. Keberadaan adikku seakan tak terengkuh.

Hingga keajaiban tiba, baskom adikku yang awalnya terhanyut cukup jauh, pada akhirnya akhirnya tertahan oleh pohon tumbang yang dihanyut banjir dan segera saja berhasil diselamatkan oleh ayah.

Seakan-akan alam mempermainkan kami, dan menunjukkan bahwa manusia bukanlah apa-apa. Bahkan untuk mendapatkan adikku yang hanyut pun, harus ada andil pohon tumbang yang mencegahnya hanyut terlampau jauh.

Sontak ibu dan kakek mengucap syukur, kegembiraan menyeruak saat ayah berhasil membawa adik dan baskomnya bergabung dengan kami. Namun, entah kenapa aku merasa ada yang salah, aku yang berada di pelukan ibu merasakan tubuhnya gemetar, ia bernapas dengan lebih lambat.

“Ma,” ucapku.

Dan ia tidak menoleh, ia fokus hanya melihat adikku yang berhasil diselamatkan ayah. Di bibirnya yang membiru tersungging sebuah senyuman, sebuah tanda kerelaan, bahwa ia sanggup menukar hidupnya demi anak-anaknya.

**

Halaman rumah kami sudah tergenang seluruhnya, namun untungnya hujan hanya tersisa gerimis saja. Pemuda berambut gondrong itu masih berdiri tanpa baju, seakan ingin menantang apa saja, entah itu perusahaan tambang yang mengeruk gunung di desa kami, para akademisi pemerintah yang menganggap banjir bandang hanya peristiwa alam biasa, atau mereka yang menganggap ini sekedar ujian Tuhan yang tak bisa diusahakan untuk tak terjadi.

Aku memeluk kedua lututku erat, kuperas otakku dengan keras. Namun, tak ada puisi yang mampu aku tulis lagi.

Ingatanku melanglang ke tahun yang jauh itu, ketika pemuda berambut gondrong itu masih bayi berumur tujuh hari yang belum memiliki nama dan bagaimana baskom cucian tempat ia diletakkan dihanyut banjir. Pula, terakhir kalinya aku memeluk ibu dan senyum di bibirnya yang membiru.

────୨ৎ────

Tentang Penulis: Zulfan Fauzi, seorang penulis yang berasal Gambut, daerah yang terjebak di antara Banjarmasin dan Banjarbaru.

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar